Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ZAID BIN TSABIT - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Dan turunnya wahyu itu selama jangka waktu kerasulan, di sela-sela peristiwa di mana Nabi selesai menghadapi suatu peperangan, kembali menghadapi peperangan yang lain … di kala ia menggagalkan suatu tipu muslihat perang musuh, beralih menghadapi muslihat mereka yang lain, dan yang lain lagi. . . dan di saat beliau membina dunia baru, yakni baru dengan arti seluas kata . . . wahyu itu tetap turun, sedang Rasul membacakan dan menyampaikannya.

Maka di sanalah ada satu kelompok yang diberkati yang menumpahkan segala minat dan perhatian mereka terhadap al-Quran sejak hari-hari pertama …. Sebagian tampil menghapalkannya sekuasanya, dan sebagian yang lain mempunyai keterampilan menulis, memelihara ayat-ayat tersebut dengan tulisan-tulisan mereka.

Dalam jangka waktu lebih kurang duapuluh satu tahun, di mana al-Quran turun ayat demi ayat, atau beberapa ayat disusul oleh beberapa ayat, sesuai dengan tuntutan keadaan dan sebab-sebabnya, maka mereka yang ahli menghafal dan menulis­kannya itu, dalam melaksanakan amal pekerjaan mereka, men­dapat taufik yang besar dari Allah Ta’ala ….

Al-Quran tidak turun sekaligus atau sekali onggok, karena ia bukanlah kitab yang dikarang atau artikel yang disusun …. Sesungguhnya ia adalah suatu dalil dan pedoman bagi suatu ummat baru yang dibangun secara alamiah, sebingkah demi sebingkah dan hari demi hari, hingga bangkitlah ‘aqidah dan keyakinan, terbentuk perasaan hatinya, akal pikiran dan iradat kemauannya menurut kehendak ilahi. Ia tidak memerlukan alasan, tetapi menuntun dan menggembleng manusia dari ummat ini untuk menempuh jalan ketaatan yang sempurna menuruti kehendak Allah swt.

Oleh karena itu al-Quran datang secara berkala dan terbagi-bagi, sesuai dengan keperluan yang terjadi dalam perjalanannya yang terus berkembang dan situasi yang selalu berubah serta kendali yang berbeda arah ….

Sebagaimana telah kami utarakan dahulu, tidak sedikit ahli baca dan ahli hafal al-Quran yang mencatat atau menuliskannya. Di antara pemimpin-pemimpinnya ialah Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas, serta seorang yang mempunyai kepribadian yang mulia yang sedang kita bicarakan sekarang ini, Zaid bin Tsabit, moga-moga Allah ridla kepada mereka semua ….

Sesudah sempurna turun wahyu, dan pada masa-masa yang terakhir dari turunnya Rasul mengulang membacakannya kepada Muslimin, dengan menertibkan susunan surat-surat dan ayat-ayat nya ….

Dan sesudah wafatnya saw. Kaum Muslimin segera disibukkan oleh peperangan menghadapi kaum yang murtad Dalam pertempuran Yamamah yang telah kita bicarakan dahulu, yakni di kala membicarakan Khalid bin Walid dan Zaid bin Khatthab, banyak qurban berjatuhan sebagai syuhada’ dari golongan ahli baca dan ahli hafal al-Quran .

Keadaan itu meng­khawatirkan. Dan belum lagi api kemurtadan padam, maka Umar dengan rasa cemas, segera menghadap Khalifah Abu Bakar Shiddiq r.a. dan dengan gigih memohon kepada beliau agar para qari’ dan huffadh segera diperintahkan menghimpun al-Quran sebelum mereka keburu gugur atau mati syahid ….

Khalifah pun bershalat istikharah kepada Tuhannya . . . lalu berunding dengan para shahabatnya dan kemudian memanggil Zaid bin Tsabit, sembari berkata kepadanya:

“Kamu adalah seorang anak muda yang cerdas, kami tidak meragukan kamu . . . !” Lalu diperintahkannya untuk segera memulai untuk menghimpun al-Quranul Karim, dengan meminta bantuan para ahli yang berpengalaman dalam soal ini.

Maka bangkitlah Zaid melakukan amal bakti yang kepadanya tergantung masa depan Islam seluruhnya sebagai suatu Agama . . . ! Dalam melaksanakan tugas yang sangat besar dan penting ini Zaid berhasil dengan amat gemilang. Tiada henti-hentinya la bekerja menghimpun ayat-ayat dan surat-surat dari dada para penghafal dan dari catatan serta tulisan, dengan meneliti dan mempersamakan serta memperbandingkan satu dengan lainnya, hingga akhirnya dapatlah dihimpun al-Quran yang tersusun dan teratur rapi….

Amal karyanya ini dinilai bersih oleh kata sepakat para shahabat moga-moga ridla Allah kepada mereka yang hidup semasa dengan Rasul dan selalu mendengarkannya dari beliau selama tahun-tahun kerasulan, teristimewa para ulama, para penghafal dan penulisnya ….

Dan berkatalah Zaid di waktu ia melukiskan kesukaran besar yang dihadapinya mengingat kesucian tugas dan kemuliaan­nya: “Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk me­mindahkan gunung dari tempatnya, akan lebih mudah kurasa dari perintah mereka menghimpun al-Quran . . . !”

Benarlah . . . , sesungguhnya Zaid lebih suka memikul satu atau beberapa gunung di atas pundaknya, daripada ia sampai tersalah bagaimanapun kecilnya dalam menuliskan ayat atau menyusunnya jadi surat sesuai dengan yang pernah dituntunkan oleh Rasulullah. Tak ada bahaya atau kecemasan yang lebih besar menimpa hati nuraninya dan Agamanya …. melebihi kesalahan seperti ini, bagaimanapun juga kecilnya dan tanpa disengajanya ….