Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - UMEIR BIN WAHAB - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Air muka Shafwan berseri-seri, seluruh kegembiraannya meluap dan melimpah ruah ia kembali menanyai orang itu dengan bergegas karena dorongan ingin tahu: “Apa sebenarnya yang terjadi, tolong ceriterakan kepadaku”. Jawab orang itu: “Umeir bin Wahab telah memeluk Islam, ia di sana sedang memperdalam Agama dan mempelajari al-Qur’an …!”

Bumi rasa berputar bagi Shafwan . . . . Peristiwa yang di­harap-harapkannya akan dapat menggembirakan kaumnya, dan selalu dinantikannya untuk melupakan kejadian perang Badar, tahu-tahu hari itu berita itu yang datang kepadanya, yang bagai­kan petir menyambarnya.

Pada suatu hari sampailah sang musafir di kampung halaman­nya . . . . Umeir telah kembali ke Mekah, tak lupa membawa pedangnya dan siap untuk bertempur. Dan orang yang mula mula menjumpainya ialah Shafwan bin ‘Umaiyah . . . . Baru saja Shafwan melihatnya, bermaksudlah ia hendak menyerang Umeir. Akan tetapi melihat pedang yang siaga di tangan Umeir ia pun mengurungkan maksudnya, dan merasa puas dengan melontar­kan caci maki padanya kemudian berlalu ….

Sekarang Umeir bin Wahab masuk ke kota Mekah sebagai seorang Muslim, sedang sewaktu meninggalkannya ia adalah seorang musyrik., Dimasukinya kota itu dan dalam ingatannya tergambar sikap Umar bin Khatthab mula ia masuk Islam, yang setelah Islamnya itu menyerukan: “Demi Allah, tidak akan ku­biarkan satu tempat pun yang pernah kududuki dengan kekafiran, melainkan akan kududuki lagi dengan keimanan … !

Seolah-olah Umeir hehdak menjadikan kata itu sebagai lambang dan pendirian ini menjadi contoh teladan la telah bertekad bulat hendak menyerahkan hidupnya untuk berbakti kepada Islam, yang sekian lama diperanginya.

Dan ia mem­punyai kemampuan dan kesempatan untuk membalas setiap kejahatan yang hendak ditimpakan kepadanya! Demikianlah ia mengganti dan mengimbangi apa-apa yang telah luput pada masa silamnya, berpacu dengan waktu mengejar tujuannya la berda’wah menyebarkan Agama Islam, baik siang maupun malam; secara terang-terangan dan terbuka . . . Keimanan. yang telah terhunjam di hatinya, telah melimpahkan rasa aman, petunjuk dan cahaya.

Dari lidah dan ucapannya keluar kalimat dan kata-kata yang haq, yang digunakannya untuk menyeru orang kepada keadilan, kebaikan dan kebajikan. Sedang di tangan kanannya tergenggam teguh pedangnya yang akan me­ngecutkan hati setiap penghalang jalan menuju kebaikan, yakni mereka yang selalu mengganggu orang-orang beriman dan hendak membawa mereka ke jalan yang bengkok.

Dalam beberapa minggu saja, orang-orang yang mendapat petunjuk masuk Islam berkat usaha Umeir bin Wahab melebihi perkiraan yang melintas dalam angan-angan Umeir. Umeir pergi membawa mereka dalam satu barisan yang panjang dan terang ­terangan ke Madinah.

Padang pasir yang mereka lalui dalam perjalanan itu, seolah-olah tak dapat menyembunyikan keta’­ajuban dan keheranannya, terhadap pria yang belum lama berselang melintasi dengan pedang terhunus menggerakkan setiap langkahnya ke Madinah untuk membunuh Rasul . . . : Kemudian laki-laki itu pula yang melintasinya sekali lagi dari Madinah, tetapi wajahnya berlainan dengan wajah semula ketika ia pergi; sekarang ia membaca al-Quran dari atas punggung untanya yang ikut gembira ….

Dan kini, laki-laki itulah juga telah mengarungi padang pasir yang sama untuk ketiga kalinya, mengepalai suatu rom­bongan iring-iringan yang panjang dari orang-orang yang beriman yang suara tahlil dan takbir mereka bergema memenuhi ang­kasa….

Sungguh benar, ia merupakan suatu berita besar . . . , berita tentang seorang Jagoan Quraisy dengan hidayah Allah telah merubahnya menjadi seorang pembela berani mati di antara pembela-pembela Islam lain nya. Ia yang selalu siap sedia di samping Rasul pada setiap peperangan dan pertempuran, dan yang kesetiaan serta baktinya kepada Agama Allah tetap teguh tidak berubah setelah Rasul wafat !

Di hari pembebasan kota Mekah, Umeir tak hendak me­lupakan shahabat dan karibnya Shafwan bin ‘Umaiyah, ia pergi untuk menyampaikan kepadanya kebaikan Islam- dan meng­ajaknya untuk memeluknya, setelah ternyata tak ada lagi .kesangsian terhadap kebenaran Rasul dan risalat. Tapi Shafwan telah bersiap-siap dengan kendaraannya menuju Jeddah untuk berlayar ke Yaman ….

Umeir sangat kecewa dan merasa kasihan melihat sikap Shafwan, maka dibulatkannya tekad hendak menyelamatkan shahabatnya itu dari jalan kesesatan. Ia pun segera pergi kepada Rasulullah saw., lalu berkata kepadanya: “Ya Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan itu adalah penghulu kaumnya, ia hendak pergi melarikan diri dengan menerjuni laut karena takut daripada anda. Maka mohon anda beri ia keamanan dan perlindungan, semoga Allah melimpahkan karunia-Nya kepada anda!”

Jawab Nabi: “Dia aman!”Kata Umeir pula: “Ya Rasul Allah, berilah aku suatu tanda, sebagai bukti keamanan dari anda!” Maka Rasulullah saw. memberikan sorbannya yang dipakainya sewaktu rnemasuki kota Mekah.

Sekarang mari kita serahkan kepada ‘Urwah bin Zuber untuk menceriterakan kejadian itu selengkapnya:

“Umeir pun pergilah dengan sorban itu mendapatkan Shaf­wan yang ketika itu sudah hendak berlayar. Serunya kepadanya: “Ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu! Ingatlah kepada Allah, janganlah engkau silap dan berputus asa! Inilah tanda keamanan dari Rasulullah saw. yang sengaja aku bawa untukmu!” .

Ujar Shafwan: “Nyahlah engkau tak perlu bercakap dengankuf” Jawab Umeir pula: “Benar Shafwari, jaminanmu ayah dan ibuku, sesungguhnya Rasulullah saw. itu adalah manusia yang paling utama, paling banyak kebajikannya, paling penyantun dan paling baik. Kemuliaannya kemuliaanmu, martabatnya marta­batmu …Kata Shafwan: “Aku takut terhadap diriku …!”Kata Umeir: “Beliau orang yang paling penyantun dan paling mulia, lebih dari,apa yang engkau duga!”

Maka akhirnya Shafwan bersedia ikut kembali. Mereka berdiri di muka Rasulullah saw., lalu kata Shafwan:

“Kawan ini me­ngatakan bahwa anda telah memberiku jaminan keamanan!” Jawab Rasul: “Betul!”
Kata Shafwan lagi: “Berilah aku’kesempatan memilih selama dua bulan!” .
Balas Rasul pula: “Engkau diberi kebebasan memilih selama empat bulan!”

Kemudian Shafwan pun Islamlah. Dan tak ter­kirakan bahagianya Umeir dengan Islamnya Shafwan shahabat­nya itu ….

Umeir bin Wahab pun melanjutkan perjalanan hidupnya yang penuh berkah menuju Allah Ta’ala mengikuti jejak Rasul Besar yang diutus Allah kepada ummat manusia untuk melepaskan mereka dari kesesatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang ….