Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - KHALID BIN WALID - PART 6"

http://massandry.blogspot.com
Tidak kurang bijaksananya panglima besar ini yang dengan rendah hati tidak mengemukakan diri. Sekalipun Khalifah telah mengangkatnya untuk mengepalai seluruh pasukan tentara dengan membawahi para panglima tetapi karena ia tidak ingin jadi pembantu syetan atas pribadi-pribadi shahabatnya, ia pun sedia turun dari pucuk jabatan yang telah dipercayakan Khalifah secara mutlak, dan dijadikannya bergiliran ….

Hari ini seorang Amir . . . besok Amir yang kedua . . . dan lusa Amir yang lain pula, dan begitulah seterusnya’. . . .

Balatentara Romawi, baik melihat besar jumlahnya maupun cukupnya perlengkapan, merupakan suatu yang sangat mengecut­kan. Dan pemimpin-pemimpin mereka yakin bahwa waktu berada di pihak Kaum Muslimin, dan bahwa berlarut-larutnya peperangan dan banyaknya medan tempur akan membantu kemenangan yang mantap bagi Kaum Muslimin. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk menghimpun seluruh kekuatan mereka pada suatu medan tempur saja, dengan mempersiapkan satu lapangan jebakan bagi orang-orang Arab.

Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang Islam pun sebelum kedatangan Khalid bin Walid merasa gentar dan cemas, me­nyebabkan rasa gelisah dan keluh kesah memenuhi jiwa mereka. Tetapi iman mereka membuat enteng segala pengabdian dalam suasana gelap gulita seperti itu dan tiba-tiba fajar harapan dan kemenangan meliputi mereka dengan cahayanya.

Bagaimanapun hebatnya orang-orang Romawi dan bala­tentaranya, namun Abu Bakar telah berkata, sedang ia me­ngetahui benar keadaan orang-orangnya:

“Khalid akan me­nyelesaikannya . . . !” dan tukasnya lagi: “Demi Allah segala kekhawatiran mereka akan kulenyapkan dengan Khalid! Biarkan orang-orang Romawi dengan segala kehebatannya itu datang! Bukankah bagi Kaum Muslimin ada Tukang Pukulnya?”

Ibnul Walid mempersiapkan tentaranya, dibagi-baginya kepada beberapa kesatuan besar. Diaturnya langkah-langkah taktik dan strategi baru untuk menyerang dan bertahan, untuk menandingi taktik-taktik Romawi, seperti yang telah dialaminya dari kawan-kawannya orang Persi di Irak. Dilukiskannya pula setiap kemungkinan dari peperangan ini.

Anehnya peperangan itu telah berjalan tepat seperti yang digariskan Khalid dan diharapkannya. Langkah demi langkah, gerakan demi gerakan, sehingga tampaknya akan terbukti se­andainya diramalkannya banyaknya pukulan pedang di per­tempuran itu, perhitungannya tak akan keliru! Setiap pancingan yang dinanti-nantikannya dari orang-orang Romawi, mereka la­kukan. Setiap pengunduran diri yang diramalkannya, betul-betul mereka perbuat.

Sebelum menerjuni kancah peperangan, ada satu hal yang sedikit mengganggu fikirannya, yaitu kemungkinan sebagian anggota pasukannya melarikan diri, terutama mereka yang baru saja masuk Islam, sesudah mereka menyaksikan kehebatan dan keseraman tentara Romawi.

Rahasia kemenangan-kemenangan istimewa yang diperoleh Khalid dalam setiap peperangan, ialah satu hal yaitu “tsabat” artinya tetap tabah dan berdisiplin. Ia memandang bahwa larinya dua tiga orang prajurit dari pasukan, akan menyebarkan ke­panikan dan kekacauan di seluruh kesatuan yang berakibat fatal, suatu bencana yang seluruh kesatuan musuh sendiri belum tentu dapat menimbulkannya.

Oleh sebab itu tindakannya amat tegas dan keras sekali terhadap mereka yang membuang senjata dan berpaling melarikan diri.

Maka pada pertempuran ini sendiri yaitu pertempuran Yarmuk, sesudah seluruh pasukannya mengambil posisinya, dipanggilnya perempuan-perempuan Muslimin dan untuk per­tama kalinya diberinya senjata. Mereka diperintahkannya untuk berada di belakang barisan pasukan Muslimin di setiap penjuru, sambil katanya kepada mereka: “Siapa yang melarikan diri, bunuhlah saja!”

Sungguh, suatu akal bijak, yang membuahkan hasil sebaik- baiknya.

Dekat sebelum pertempuran berlangsung, panglima Romawi meminta Khalid tampil ke depan, karena ia ingin berbicara dengannya. Khalid pun muncullah hingga kedua mereka ber­hadap-hadapan di atas punggung kuda masing-masing, yakni pada suatu lapangan kosong di antara kedua pasukan besar.

Panglima pasukan Romawi yang bernama Mahan itu pun berkata:

“Kami mengetahui, bahwa yang mendorong kalian ke luar dari negeri kalian tak lain hanyalah kelaparan dan kesulitan …. Jika kalian setuju, saya beri masing-masing kalian 10 dinar lengkap dengan pakaian dan makanan, asalkan kalian pulang kembali ke negeri kalian. Di tahun yang akan datang saya kirimkan sebanyak itu pula . . . !

Mendengar itu, bukan main marahnya Khalid, tapi ditahan­nya, sambil menggertakkan gigi; ia menganggap suatu kekurang- ajaran dalam kata-kata panglima Romawi itu … , lalu diputus­kannya akan menjawabnya dengan kata-kata yang sesuai, maka berucaplah ia:

“Bahwa yang mendorong kami keluar dari negeri kami, bukan karena lapar seperti yang anda sebutkan tadi, tetapi kami adalah satu bangsa yang biasa minum darah. Dan kami tahu benar, bahwa tak ada darah yang lebih manis dan lebih baik dari darah orang-orang Romawi, karena itulah kami datang!”

Panglima Khalid menggertakkan kekang kudanya, sambil kembali ke pasukannya, diangkatnya bendera tinggi-tinggi memberitahu­kan dimulainya pertempuran ….

“Allahu Akbar . . . , berhembuslah angin surga!”

Balatentaranya pun maju menyerbu laksana peluru yang di­tembakkan. Dan pertempuran berlangsung mencapai puncaknya yang tak ada tandingannya. Orang-orang Romawi datang meng­hadang dengan pasukan-pasukan besar yang menggunung . . . .

Tapi nyata dan jelas bagi orang-orang itu sesuatu yang tidak mereka duga-duga dari Kaum Muslimin.

Pahlawan-pahlawan itu telah melukis gambar perjuangan yang mengagumkan dengan pe­ngurbanan dan keteguhan hati mereka. Itu salah seorang dari mereka sedang mendekati Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah r.a. semen­tara pertempuran berkecamuk itu sembari berkata:

“Aku sudah bertekad mati syahid, apakah anda mempunyai pesan penting yang akan kusampaikan kepada Rosululloh, bila aku menemui nanti?”

Jawab Abu ‘Ubaidah: “Ada, katakan kepada beliau: Ya Rosululloh , sesungguhnya kami telah menemukan bahwa apa yang dijanjikan Allah kepada kami, memang benar! “

Laki-laki itu pun berlalulah maju menyerang bagai anak panah lepas dari busurnya . . . ia menyerbu ke tengah-tengah pertempuran dahsyat, merindukan tempat peraduan dan pem­baringannya. Ia menetak dengan sebilah pedang, ia dipukul oleh seribu pedang, sampai ia naik mati syahid . ..!!

Dan ia adalah ‘Ikrimah bin Abi Jahal . . . ! Benar anak Abu Jahal. Ia berseru kepada orang-orang Islam, sewaktu tekanan orang Romawi semakin berat atas mereka, katanya dengan suara lantang:

“Sungguh aku telah lama memerangi Rosululloh saw. di masa yang lalu sebelum aku ditunjuki Allah masuk Islam, apakah pantas aku lari dari musuh-musuh Allah hari ini?” Kemudian ia berteriak: “Siapakah yang bersedia dan berjanji untuk mati. . .?”

Sekelompok Muslimin berjanji kepadanya untuk berjuang sampai mati, kemudian mereka sama menyerbu ke jantung pertempuran, bukan hanya mencari kemenangan tetapi kalau kemenangan itu harus ditebus oleh jiwa raganya, mereka sudah siap untuk mati syahid …. Allah menerima pengurbanan dan bai’at mereka, mereka semuanya mati syahid . . . .!

Ada pula orang yang luka-luka berat, maka dibawakan orang air, ia memberi isyarat kepada temannya yang berdekatan agar diberi lebih dulu karena lukanya lebih berat. Dan sewaktu orang ini diberi air, ia mengisyaratkan pula agar diberikan kepada yang lain, sedang waktu didatangi orang lain itu, ia menunjuk kepada temannya . . . dan begitulah seterusnya ….

Demikianlah yang terjadi . . . sampai rela menderita kehausan sewaktu ruh-ruh mereka melayang …. Inilah contoh teladan yang paling indah tentang pengurbanan dan mendahulukan kepentingan kawan.

Peperangan Yarmuk benar-benar tempat pengurbanan yang jarang tandingannya. Dan di antara monumen-monumen tebusan yang mena’jubkan itu, yaitu monumen istimewa yang dibina oleh kemauan-kemauan keras, melukiskan karya Khalid ibnul Walid sedang mengerahkan 100 orang tentaranya tidak lebih. Mereka menyerbu sayap kiri Romawi yang jumlahnya tidak kurang dari 40 ribu orang, dan Khalid berseru kepada seratus orang yang bersamanya itu:

“Demi Allah yang diriku di tangan- Nya! Tak ada lagi keshabaran dan ketabahan yang tinggal pada orang-orang Romawi, kecuali apa yang kamu lihat! Sungguh, aku mengharap Allah memberikan kesempatan kepada kalian untuk menebas batang-batang leher mereka … !”

Seratus . . . masuk menerobos ke dalam 40 ribu . . . ? Kemu­dian mereka menang . . . ? Tetapi, kenapa tercengang? Bukankah hati-hati mereka penuh keimanan kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar? Dan iman kepada Rasul-Nya saw. yang benar lagi terpercaya? Iman kepada ketentuan Allah, yaitu hukum-hukum hidup yang terbanyak membawa kebaikan, petunjuk dan martabat.

Bukankah Khalifah mereka ash-Shiddiq r.a. (yang lurus dan benar), yang benderanya sekarang telah menjulang tinggi di dunia, tapi ia sendiri di Madinah, ibukota baru bagi dunia baru, masih sedia memerah susu kambing untuk janda kematian suami, dan dengan kedua tangannya mengadukkan roti bagi anak-anak yatim piatu . . . ?

Dan bukankah panglima mereka adalah Khalid ibnul Walid, Penawar kecemasan, Pembasmi kesombongan, kekerasan, ke- durhakaan, permusuhan, dan Pedang Allah yang terhunus yang akan menebas unsur-unsur perselisihan, kebencian dan kemusy­rikan . . . ? Bukankah itu memang demikian? Karena itu, ber­hembuslah wahai angin kemenangan! Bertiuplah oh kekuatan perkasa, yang menang, dan yang kuat kuasa! Allah jugalah di ata$ segala-galanya.

Keluarbiasaan Khalid telah mengagumkan para panglima Romawi dan komandan pasukannya, yang mendorong salah seorang di antara mereka, Georgius namanya untuk mengundang Khalid dalam saat-saat peperangan berhenti agar tampil ke­padanya.

Di kala keduanya sudah bertemu, panglima Romawi itu menghadapkan percakapannya kepada Khalid, katanya:

” Tuan Khalid . . . , jujurlah anda kepadaku, jangan berbohong, sebab orang merdeka tak pernah bohong! Apakah Allah telah menurunkan sebilah pedang kepada Nabi anda dari langit, lalu pedang itu diberikannya kepada anda, hingga setiap anda hunus­kan terhadap siapa pun, pedang tersebut pasti membinasakannya? “
Jawab Khalid: “Oh, tidak!”
Orang itu bertanya pula: “Mengapa anda dinamai Pedang Allah?”
Jawab Khalid: “Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul- Nya kepada kami, sebagian kami ada yang membenarkannya, dan sebagian pula mendustakannya. Aku dulunya termasuk orang yang mendustakannya, sehingga akhirnya Allah menjadikan hati kami menerima Islam, dan memberi petunjuk kepada kami melalui Rasul-Nya, lalu kami berjanji setia kepadanya . . . . Kemudian Rasul mendo’akanku, dan beliau berkata kepadaku: “Engkau adalah pedang Allah di antara sekian banyak pedang- pedang-Nya”.
Demikianlah, maka aku diberi nama . . . . Pedang Allah”.

— Kepada apa anda sekalian diserunya?
— Kepada mentauhidkan Allah dan kepada Islam.
— Apakah orang-orang yang masuk Islam sekarang akan mendapat pahala dan ganjaran seperti anda juga?
— Memang, bahkan lebih ….
— Bagaimana dapat jadi, padahal anda sudah lebih dahulu memasukinya?
— Karena sesungguhnya kami telah hidup bersama Rasullah saw., kami telah melihat tanda-tanda kerasulan dan mu’jizatnya, dan sewajarnyalah bagi setiap orang yang telah melihat seperti yang kami lihat dan mendengar seperti yang kami dengar, akan masuk Islam dengan mudah …. Adapun anda, wahai orang-orang yang belum pernah melihat dan mendengarnya, lalu anda beriman kepada yang ghaib, maka pahala anda lebih berlipat ganda dan besar, bila anda membenarkan Allah dengan hati ikhlas serta niat yang suci.”

Panglima Romawi itu pun berseru, sambil memajukan kuda­nya ke dekat Khalid dan berdiri di sampingnya:

“Ajarkanlah kepadaku Islam itu, hai Khalid . . . !”

Maka masuk Islamlah panglima itu . . . dan shalat dua raka’at, satu-satunya shalat yang sempat dilakukannya ….

Kedua pasukan balatentara itu sudah mulai bertempur lagi. Dan panglima Romawi Georgius sekarang berperang di pihak Muslimin, dan mati-matian me­nuntut syahid, sampai ia mencapainya dan berbahagia men­dapatkannya ….

Arkian, sekarang akan kami ketengahkan suatu kebesaran kemanusiaan dalam suatu penampilan termegah ….

Selagi Khalid memimpin balatentara Islam dalam peperangan yang banyak menimbulkan qurban ini, selagi ia merenggutkan kemenangan gemilang dari cengkeraman tentara Romawi secara luar biasa, saat itulah ia tiba-tiba dikejutkan oleh sepucuk surat yang datang dari Madinah, dibawa oleh seorang kurir Khalifah yang datang dari Khalifah baru, Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab ….

Dalam surat tersebut tercantum salam pengharga­an ‘Al-Faruq” kepada seluruh pasukan Islam, berita berkabungnya terhadap Khalifah Rosululloh saw. Abu Bakar Shiddiq r.a. yang telah wafat. Kemudian putusannya memberhentikan Khalid dari pimpinan pasukan dan mengangkat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah sebagai gantinya.

Khalid membaca surat itu dengan tenang . . . dengan me­mohonkan rahmat untuk Abu Bakar serta taufiq untuk Umar . . . . Dimintanya kepada si pembawa surat agar tidak menceriterakan kepada siapapun isi surat tersebut, menyuruhnya tetap tinggal di suatu tempat dan tidak meninggalkannya, serta tidak berhubungan dengan siapa pun.

Ia memulai lagi meneruskan pimpinan pertempuran, sambil menyembunyikan berita kematian Abu Bakar dan perintah- perintah Umar sampai kemenangan betul-betul menjadi ke­nyataan, yang waktu itu telah dekat sekali seolah-olah telah berada di tangan ….

Lonceng kemenangan pun telah berbunyi, orang-orang Romawi telah mengundurkan diri . . . maka menghadaplah pahlawan itu kepada Abu ‘Ubaidah seraya memberi hormat sebagaimana layaknya seorang prajurit terhadap panglimanya ….

Abu ‘Ubaidah mula-mula hanya menyangka sebagai olok- olok dari seorang panglima yang telah mewujudkan kemenangan yang tak diduga-duga , . . . Tetapi tak lama kemudian ia melihat kenyataan yang sesungguhnya, lalu diciumnya Khalid di antara kedua matanya dan memuji kebesaran jiwa dan akhlaqnya.

Ada lagi riwayat lain dalam sejarah yang mengatakan, bahwa surat yang dikirimkan oleh Amirul Mu’minin Umar ditujukan kepada Abu ‘Ubaidah berita tersebut disimpan saja oleh Abu ‘Ubaidah terhadap Khalid sampai perang berakhir ….