Saturday, May 30, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - JA’FAR BIN ABI THALIB - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Perhatikan kemudaannya yang gagah tampan serta ber­wibawa …. Perhatikan warna kulitnya yang cerah bercahaya . . . . Perhatikan kelemah lembutannya, sopan santun, kasih sayangnya, kebaikannya, kerendahan hati serta ketaqwaannya . . . . Perhatikan keberaniannya yang tak kenal takut, kepe- murahannya yang tak kenal batas. Perhatikan kebersihan hidup dan kesucian jiwanya. Perhatikan kejujuran dan amanahnya ….

Lihatlah, pada dirinya bertemu segala pokok kebaikan, keutamaan dan kebesaran.

Anda jangan heran tercengang, karena anda seKarang berada di hadapan seorang manusia yang mirip dengan Rasulullah dalam ujud tubuh dan tingkah laku atau budi pekertinya.

Anda berada di muka seseorang yang telah diberi gelar oleh Rasul sendiri sebagai “Bapak si miskin”. Anda berhadapan dengan seseorang yang diberi gelar “Si Bersayap dua di surga”. Anda di muka “Si Burung surga” yang selalu berkicau. Siapakah itu . … ? Itulah Ja’far bin Abi Thalib! Salah seorang pelopor ter­nama Islam.

Perintis utama yang terkemuka, di antara orang- orang yang telah melibatkan seluruh kehidupannya dan memiliki saham besar dalam menempa hati nurani kehidupan ….

Ia datang kepada Rasulullah saw memasuki Agama Islam, dengan mengambil kedudukan tinggi di antara mereka yang sama- sama pertama kali beriman. Ikut pula isterinya Amma binti ‘Umais menganut Islam pada hari yang sama. Keduanya selaku suami isteri ikut menanggung derita, dengan seluruh keberanian dan ketabahan tanpa memikirkan kapan waktu penderitaan itu berakhir.

Sewaktu Rasulullah memilih shahabat-shahabatnya yang akan hijrah ke Habsyi (Ethiopia), maka tanpa berfikir panjang Ja’far bersama isterinya tampil mengemukakan diri, hingga tinggal di sana selama beberapa tahun. Di sana mereka dikaruniai Allah tiga orang anak yaitu: Muhammad, Abdullah dan ‘Auf.

Selama di Ethiopia, maka Ja’far bin Abi Thaliblah yang tampil menjadi juru bicara yang lancar dan sopan, serta cocok menyandang nama Islam dan utusannya. Demikian adalah hikmat Allah yang tidak ternilai yang telah dikaruniakan kepadanya, berupa hati yang tenang, akal fikiran yang cerdas, jiwa yang mampu membaca situasi dan kondisi serta lidah yang fasih.

Dan sekalipun saat-saat pertempuran Muktah yang dihadapi­nya kemudian sampai ia gugur sebagai salah seorang syuhada, merupakan saatnya yang terdahsyat, teragung dan terabadi, tetapi hari-hari berdialog yang dilakukannya dengan Negus, tak kurang dahsyat dan seramnya, bahkan tak kurang hebat nilai martabatnya …. Sungguh hari itu adalah hari istimewa dan penampilan yang mempesona ….

Peristiwa tersebut terjadi, karena Kaum Muslimin hijrahnya ke Ethiopia, membuat kaum Quraisy tak pernah senang dan diam, bahkan menambah membangkitkan kemarahan dan rasa dengki mereka, bahkan mereka sangat takut dan cemas kalau- kalau Kaum Muslimin di tempatnya yang baru ini, menjadi bertambah kuat dan jumlahnya semakin banyak.

Bahkan bila kesempatan berkembang dan bertambah kuat ini tidak sampai terjadi, mereka tetap tidak merasa puas, di­sebabkan orang-orang Islam itu lepas dari tangan dan terhindar dari penindasan mereka, dan tentulah mereka akan menetap di sana dengan harapan dan masa depan yang gemilang, yang akan melegakan jiwa Muhammad saw. dan lapangnya dada Islam.

Karena itulah para pemimpin Quraisy mengirimkan dua orang utusan terpilih pada kaisar (Negus), lengkap dengan mem­bawa hadiah-hadiah yang sangat berharga dari kaum Quraisy, kedua utusan ini menyampaikan harapan Quraisy agar Negus mengusir Kaum Muslimin yang hijrah dan datang melindungkan diri itu keluar dari negerinya dan menyerahkannya kepada mereka. Dua utusan yang datang itu ialah Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amar bin ‘Ash, yang keduanya di waktu itu belum lagi masuk Islam.

Negus yang waktu itu bertakhta di singgasana Ethiopia, adalah seorang tokoh yang mempunyai iman yang kuat. Dalam lubuk hatinya, ia menganut agama Nasrani secara murni dan padu, jauh dari penyelewengan dan lepas dari fanatik buta dan menutup diri. Nama baiknya telah tersebar ke mana-mana, dan perjalanan hidupnya yang adil telah melampaui batas negerinya. Oleh karena inilah Rasulullah saw. memilih negerinya menjadi tempat hijrah bagi shahabat-shahabatnya, dan karena ini pulalah kaum kafir Quraisy merasa khawatir kalau-kalau maksud dan tipu muslihat mereka jadi gagal dan tidak berhasil. Dari itu kedua utusannya dibekali sejumlah hadiah besar yang berharga untuk pembesar-pembesar agama dan pejabat gereja di sana.

Pemimpin-pemimpin Quraisy menasihati kedua utusannya agar mereka jangan menghadap kaisar dulu sebelum memberikan hadiah-hadiah kepada Patrik dan Uskup, dengan tujuan agar para pendeta itu merasa puas dan berfihak kepada mereka, dan agar orang-orang itu menyokong tuntutan mereka di hadapan kaisar kelak.

Kedua utusan itu pun sampailah ke tempat tujuan mereka, Ethiopia. Mereka menghadap pemimpin-pemimpin agama dengan membawa hadiah-hadiah besar yang dibagi-bagikannya kepada mereka. Kemudian mereka kirim pula hadiah-hadiah kepada Negus.

Demikianlah keduanya terus-menerus membangkitkan dendam kebencian di antara para pendeta. Keduanya berharap dengan sokongan moril para pendeta itu, Negus akan mengusir Kaum Muslimin keluar dari negerinya.
Demikianlah, hari-hari di saat keduanya akan menghadap kaisar sudah ditetapkan. Dan Kaum Muhajirin pun diundang untuk menghadapi dendam kesumat Quraisy yang masih hendak melakukan muslihat keji dan menimpakan siksaan kepada mereka ….

Dengan air muka yang jernih berwibawa, dan kerendahan hati yang penuh pesona, baginda Negus pun duduklah di atas kursi kebesarannya yang tinggi, dikelilingi oleh para pembesar gereja dan agama serta lingkungan terdekat istana. Di hadapan­nya di atas suatu ruangan luas duduk pula Kaum Muhajirin Islam, yang diliputi oleh ketenteraman dari Allah dan dilindungi oleh rahmat-Nya.

Kedua utusan kaum Quraisy berdiri mengulangi tuduhan mereka yang pernah mereka lontarkan terhadap Kaum Muslimin di hadapan kaisar pada suatu pertemuan khusus yang disediakan oleh kaisar sebelum pertemuan besar yang menegangkan ini:

“Baginda Raja yang mulia. Telah menyasar ke negeri paduka orang-orang bodoh dan tolol. Mereka tinggalkan agama nenek moyang mereka, tapi tidak pula hendak memasuki agama paduka. Bahkan mereka datang membawa Agama baru yang mereka ada-adakan, yang tak pernah kami kenal, dan tidak pula oleh paduka. Sungguh, kami telah diutus oleh orang-orang mulia dan terpandang di antara bangsa dan bapak-bapak mereka, paman-paman mereka, keluarga-keluarga mereka, agar paduka sudi mengembalikan orang-orang ini kepada kaumnya kembali”.

Negus memalingkan mukanya ke arah Kaum Muslimin sambil melontarkan pertanyaan:

“Agama apakah itu yang menyebabkan kalian meninggalkan bangsa kalian, tapi tak memandang perlu pula kepada agama kami?”