Saturday, May 30, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - JA’FAR BIN ABI THALIB - PART 3"

http://massandry.blogspot.com
Kedua utusan Quraisy itu pun pergilah ke luar meninggalkan tempat pertemuan dengan perasaan hina dan terpukul. Mereka segera memalingkan arah perjalanannya pulang menuju Mekah. Juga orang-orang Islam di bawah pimpinan Ja’far, keluar pula tetapi untuk memulai penghidupan baru di tanah Ethiopia, yakni penghidupan yang aman tenteram, sebagai kata mereka:

“Di negeri yang baik . . . dengan tetangga yang baik”, hingga akhirnya datang saatnya Allah mengidzinkan mereka kembali kepada Rasul mereka, kepada shahabat dan handai tolan serta kampung halaman mereka ….
Di kala Rasulullah bersama Kaum Muslimin sedang bersukaria dengan kemenangan atas jatuhnya Khaibar, tiba-tiba muncullah kembali pulang dari Ethiopia Ja’far bin Abi Thalib, bersama sisa Muhajirin lainnya yang baru kembali dari sana.

Tak terkatakan besarnya hati Nabi dan betapa sukacita, bahagia dan gembiranya ia karena kedatangan mereka …! Di­peluknya Ja’far dengan mesra sambil berkata: “Aku tak tahu, entah mana yang lebih menggembirakanku, apakah dibebaskan­nya Khaibar atau kembalinya Ja’far!”

Dengan berkendaraan Rasulullah pergi bersama shahabat- shahabatnya ke Mekah, hendak melaksanakan ‘umrah qadla.

Sekembalinya ke Madinah jiwa Ja’far bergelora dan dipenuhi keharuan, demi mendengar berita dan ceritera sekitar shahabat- shahabatnya Kaum Muslimin, baik yang gugur sebagai syuhada, maupun yang masih hidup selaku pahlawan-pahlawan yang berjasa dari Perang Badar, perang Uhud, Khandak dan peperangan-peperangan lainnya. Kedua matunya basah berlinang me­ngenang para Mu’minin yang telah menepati janjinya dengan mengurbankan nyawa karena Allah! Amboi . . . , kapankah aku akan berbuat demikian pula?” pikirnya. Ah . . . hatinya rasa terbang merindukan surga. Ia pun menunggu-nunggu kesempatan dan peluang yang berharga itu, berjuang sebagai syahid di jalan Allah ….

Pasukan-pasukan Islam ke perang Muktah yang telah kita bicarakan dahulu, sedang bersiap-siap hendak diberangkatkan. Bendera dan panji-panji perang berkibar dengan megahnya, disertai dengan gemerincingnya bunyi senjata. Ja’far memandang peperangan ini sebagai peluang yang sangat baik dan satu-satunya kesempatan seumur hidup, untuk merebut salah satu di antara dua kemungkinan, yakni: membuktikan kejayaan besar bagi Agama Allah dalam hidupnya atau ia akan beruntung menemui syahid di jalan Allah. Maka ia datang bermohon kepada Rasul Allah untuk turut mengambil bagian dalam peperangan ini… .

Ja’far mengetahui benar, bahwa peperangan ini bukan enteng dan main-main, bahkan bukan peperangan yang kecil, malah sebenarnya inilah suatu peperangan yang luar biasa, baik tentang jauh dan sulitnya medan yang akan ditempuh, maupun tentang besarnya musuh yang akan dihadapi, yang belum pernah dialami ummat Islam selama ini. Suatu peperangan melawan balatentara kerajaan Romawi yang besar dan kuat, yang memiliki kemampu­an perlengkapan dan pengalaman serta didukung oleh alat per­senjataan yang tak dapat ditandingi oleh orang-orang Arab maupun Kaum Muslimin. Walau demikian, perasaan hati dan semangatnya rindu hendak terbang ke sana. Ja’far termasuk di antara tiga serangkai yang diangkat Rasulullah jadi panglima pasukan dan pemimpinnya di perang Muktah ini.

Balatentara Islam pun keluar bergerak menuju Syria dan di dalamnya ter­dapat Ja’far bin Abi Thalib ….

Pada suatu hari yang dahsyat kedua pasukan itu pun ber­hadapan muka, dan tak lama kemudian pecahlah pertempuran hebat. Seharusnya Ja’far akan kecut dan gentar melihat bala­tentara Romawi yang besarnya 200.000 orang prajurit itu, tetapi sebaliknya saat itu bangkitlah semangat juang yang tinggi pada dirinya, karena sadar akan kemuliaan seorang Mu’min yang sejati, dan sebagai seorang pahlawan yang ulung, haruslah kemampuan juangnya berlipat ganda dari musuh ….

Sewaktu panji-panji pasukan hampir jatuh terlepas dari tangan kanan Zaid bin Haritsah, dengan cepatnya disambar oleh Ja’far dengan tangan kanannya pula. Dengan panji-panji di tangan, ia terus menyerbu ke tengah-tengah barisan musuh, serbuan dari seseorang yang berjuang di jalan Allah, dengan tujuan menyaksikan ummat manusia bebas dari kekufuran atau mati syahid, memenuhi panggilan Maha Pencipta.

Prajurit Romawi semakin banyak mengelilinginya. Karena dilihatnya ku­danya menghalangi gerakannya, maka Ja’far melompat terjun dari kudanya dengan berjalan kaki, lalu mengayunkan pedangnya ke segala jurusan yang mengenai leher musuhnya, laksana malaikat maut pencabut nyawa.

Sekilas terlihat olehnya seorang serdadu musuh melompat hendak menunggangi kudanya. Karena ia tak sudi hewannya itu dikendarai manusia najis, Ja’far pun menebas kudanya dengan pedangnya sampai tewas.

Setapak demi setapak ia terus berjalan di antara barisan serdadu Romawi yang berlapis-lapis yang laksana deru angin mengeroyok hendak membinasakannya, sementara suara meninggi dengan ungkapan­nya yang gemuruh:

“Wahai surga yang kudambakan mendiaminya, Harum semerbak baunya, sejuk segar air minumnya. Tentara Romawi telah menghampiri liang kuburnya, Terhalang jauh dari sanak keluarganya, Kewajibankulah menghantamnya kala menjumpainya”.

Balatentara Romawi menyaksikan bagaimana kemampuan Ja’far bertempur yang seolah-olah sepasukan tentara jua . . . .

Mereka terus mengepung Ja’far hendak membunuhnya laksana orang-orang gila yang sedang kemasukan setan. Kepungan mereka semakin ketat hingga tak ada harapan untuk lepas lagi. Mereka tebas tangan kanannya dengan pedang hingga putus, tapi sebelum panji itu jatuh ke tanah, cepat disambarnya dengan tangan kirinya …. Lalu mereka tebas pula tangan kirinya, tapi Ja’far mengepit panji itu dengan kedua pangkal lengannya ke dada. Pada saat yang amat gawat ini, ia bertekad akan memikul tang­gung jawab, untuk tidak membiarkan panji Rasulullah jatuh menyentuh tanah, yakni selagi hayat masih dikandung badan.

Entah kalau ia telah mati, barulah boleh panji itu jatuh ke tanah ….

Di kala jasadnya yang suci telah kaku, panji pasukan masih tertancap di antara kedua pangkal lengan dan dadanya. Bunyi kibaran bendera itu, seolah-olah menghimbau-himbau Abdullah bin Rawahah. Pahlawan ini membelah barisan musuh bagaikan anak panah lepas dari busurnya ke arah panji itu, lalu merenggut­nya dengan kuat. Kemudian berlalu untuk melukis riwayat yang besar pula.

Demikianlah Ja’far mempertaruhkan nyawa dalam menem­puh suatu kematian agung yang tak ada taranya. Dan begitulah caranya ia menghadap Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, menyampaikan pengurbanan besar yang tidak terkira, berselimut­kan darah kepahlawanannya ….

Allah, Zat yang Maha Mengetahui, menyampaikan berita tentang akhir kesudahan peperangan kepada Rasul-Nya, begitu pula akhir hidup Ja’far. Rasulullah menyerahkan nyawa Ja’far kerribali kepada Allah dan beliau pun menangislah ….

Rasulullah pun pergi ke rumah saudara sepupunya ini, beliau berdo’a untuk anak cucunya. Mereka dipeluk dan di­ciumi nya, sementara air matanya yang mulia bercucuran tak tertahankan ….

Kemudian Rasulullah kembali ke majlisnya, dikelilingi para shahabat. Seorang penyair Islam terkemuka yang bernama Hassan bin Tsabit tampil dengan syairnya menceriterakan Ja’far yang gugur bersama kawan-kawannya, maknanya lebih kurang demikian:

“Maju jurit memimpin sepasukan Mu’min Menempuh maut mengharap ridla Rabbul Alamin
Putra Bani Hasyim yang cemerlang bak cahaya purnama Menyibak kegelapan tiran nan aniaya
Menyabet dan menebas setiap penyerang Akhirnya jatuh syahid sebagai pahlawan
Disambut para syuhada yang pergi lebih dahulu Di surga na’im yang menjadi idaman setiap kalbu
Alangkah besarnya pengurbanan Ja’far bagi Islam Dalam menyebarluaskan ke seluruh alam
Selama ada pejuang seperti putera Hasyim ini Pasti Islam menjadi anutan penduduk bumi”.

Sesudah Hassan bangkit pula Ka’ab bin Malik, yang meng­ucapkan syairnya yang bernilai, lebih kurang sebagai berikut:

“Kemuliaan tertumpah atas pahlawan yang susul-me­nyusul Di perang Muktah, tak tergoyahkan bersusun bahu membahu Restu Allah atas mereka, para pemuda gagah perkasa Curahan Rahmat kiranya membasuh tulang-belulang mereka Tabah dan shabar, demi Tuhan rela mempertaruhkan nyawa Setapak pun tak hendak undur, menentang setiap bahaya Panji perang di tangan Ja’far sebagai pendahulu Menambah semangat tempur bagi setiap penyerbu Kedua teras pasukan berbenturan baku hantam Ja’far dikepung musuh sabet kiri terkam kanan Tiba-tiba . . . , bulan purnama redup kehilangan jiwanya Sang surya pun gerhana, ditinggalkan pahlawannya . . . .”.

Memang, ia manusia yang sangat pemurah dengan hartanya selagi masih hidup . . . ; dan di saat ajalnya, sebagai seorang syahid yang sangat pemurah pula mengurbankan nyawa dan hidupnya ….

Berkata Abdullah bin Umar: “Aku sama-sama terjun di perang Muktah dengan Ja’far. Waktu kami mencarinya, kami dapati ia beroleh luka-luka bekas tusukan dan lemparan lebih dari 90 tempat!”

Bayangkan! 90 tempat bekas luka-luka tusukan pedang dan lemparan tombak! Walau demikian, prajurit perang yang me­newaskannya tak kuasa menghalangi rohnya ke tempat kem­balinya di sisi Allah swt.! Sekali-kali tidak! Pedang-pedang dan tombak-tombak mereka tak lain hanyalah sebagai jembatan yang menyeberangkan ruhnya yang syahid dan mulia ke sisi Allah yang Rahim lagi Maha Tinggi; di sanalah ia bertempat dengan tenang berbahagia, di tempat yang istimewa ….

Nun di sana ia berada di surga abadi, lengkap memakai bintang- bintang tanda jasa, yang bergantungan di setiap bekas luka, aki­bat tusukan pedang dan lemparan tombak. Dan jika anda ingin tahu tentang dirinya, dengarkanlah sabda Rasulullah:

“Aku telah melihatnya di surga . . . , kedua bahunya yang penuh bekas-bekas cucuran darah penuh dihiasi dengan tanda-tanda kehormatan . . !!