Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - KHALID BIN WALID - PART 7"

http://massandry.blogspot.com
Riwayat mana pun yang benar, yang ini atau yang itu, yang penting bagi kita ialah sikap Khalid pada kedua kondisi tersebut, yang mengungkapkan bahwa benar-benar ia suatu pribadi yang mengagumkan, penuh keagungan dan kemuliaan. Dan setahuku, tak satu pun dalam seluruh kehidupan Khalid, suatu kejadian yang menjelaskan keikhlasannya yang mendalam dan kejujurannya yang teguh, melebihi apa yang ditunjukkan peris­tiwa ini.

Sama saja baginya, apakah jadi panglima, atau hanya prajurit biasa. Sesungguhnya jadi pemimpin seperti halnya prajurit masing-masing membawa kewajiban yang harus ditunaikankan- nya terhadap Allah yang ia imani, terhadap Rasul yang ia bai’at, terhadap Agama yang telah dipeluknya, dan ia bernaung di bawah panji-panjinya ….

Baktinya yang diberikan sebagai amir yang memerintah, sama dengan darmanya yang dibaktikannya sebagai prajurit yang dititah.

Kemenangan besar terhadap nafsu ini dipersiap­kan baginya sebagai juga bagi orang lainnya, oleh contoh teladan dan perangai para Khalifah, yang memegang tampuk pimpinan Ummat Islam waktu itu … . Abu Bakar dan Umar . . . dua nama, yang bila saja lidah bergerak menyebutnya, maka ter­bayanglah dalam hati segala sifat keutamaan manusia dan kebesarannya ….

Sekalipun hubungan belas kasih seolah-olah hilang tercecer antara Umar dan Khalid, namun kebersihan jiwa Umar, ke­adilan, ketaqwaan dan kebesaran pribadinya yang luar biasa, tak semiang pun diragukan oleh Khalid.
Karena itu pula, tak ada alasan untuk meragukan keputusan-keputusan yang diambilnya, karena hati nurani yang mengeluar­kannya, telah sampai ke puncak keshalehan, kelurusan, keikhlas­an dan kejujuran, sejauh yang dapat dicapai oleh manusia yang berhati bersih dan terpimpin.

Tak ada sedikit pun maksud jelek Umar terhadap pribadi Khalid itu, hanya ia merasa keberatan terhadap pedangnya yang terlalu cepat dan tajam …. Hal ini telah dibayangkannya sewaktu ia mengusulkan pemberhentian Khalid kepada Abu Bakar, menyusul terbunuhnya Malik bin Nuwairah, katanya:

“Sesungguhnya pada pedang Khalid itu ada rohaqnya”, artinya kelancangan, ketajaman dan ketergesaan.

Lalu dijawab oleh Khalifah ash-Shiddiq: “Aku tak akan me­nyarungkan pedang, yang telah dihunus Allah atas orang-orang kafir “

Umar tidak mengatakan bahwa rohaq (kecepatan bertindak) pada Khalid . . . hanya menjadi sifat rohaq itu sebagai sifat pedangnya bukan pribadi orangnya. Kata-kata itu tidak saja mengungkapkan adab sopan santun, tapi juga penilaian baiknya terhadap diri Khalid ….

Kehidupan Khalid adalah perang sejak lahir sampai mati .

Lingkungannya, pertumbuhannya, pendidikannya dan seluruh kehidupannya sebelum dan sesudah Islam, seluruhnya merupakan arena bagi seorang pahlawan berkuda yang lihai lagi ditakuti. Kemudian bahwa kegigihannya di masa silam sebelum Islam, peperangan-peperangan yang diterjuninya menentang Rasul dan shahabatnya, dan pukulan-pukulan pedangnya di masa syirk yang menjatuhkan kepala-kepala orang-orang yang beriman serta kening-kening para shahabat peribadat, semuanya itu merupakan beban yang berat bagi jiwa dan kalbunya.

Maka sekarang dijadikannya pedangnya alat yang ampuh penebus masa lalu, dengan memancung habis segala tonggak kemusyrikan berlipat ganda hebatnya dari apa yang telah pernah dilakukannya terhadap Islam. Dan barangkali anda masih ingat kalimat yang pernah kami cantumkan di permulaan ceritera ini, yang terlompat dari mulutnya sewaktu berbicara dengan Rasul­ullah saw.:

“Ya Rasulallah Mohon anda mintakan aku ampun terhadap semua yang telah kulakukan, berupa meng­halangi jalan Allah!”

Sekalipun Rasul telah menjelaskan bahwa Islam telah me­maafkan semua masa lalu, namun ia berusaha untuk mendapat­kan janji dari Rosululloh selagi ia masih hidup agar beliau me­mohonkan ampun kepada Allah atas segala perbuatannya di masa silam itu.

Dan pedang yang sedang berada di tangan seorang panglima berkuda istimewa seperti Khalid, kemudian tangan yang meng­genggam pedang itu digerakkan oleh hati yang bergelora dengan kehangatan pensucian dan penebusan, serta dipenuhi dengan pembelaan mutlak terhadap agama yang masih dikelilingi ber­bagai persekongkolan jahat dan permusuhan, sungguh sulitlah bagi pedang ini untuk melepaskan diri sama sekali dari pem­bawaannya yang keras dahsyat, dan ketajamannya yang memutus ….

Beginilah keadaannya, kita lihat pedang Khalid membuat ke­sukaran bagi pemiliknya.

Maka sewaktu selesainya pembebasan kota Mekah, Nabi saw. mengutusnya kepada sebagian kabilah yang berdekatan dengan negeri Mekah, sambil mengatakan kepadanya:

“Aku mengutusmu sebagai da’i — penyeru ummat — bukan sebagai penyerang mereka”, rupanya pedangnya itu telah menguasai dirinya yang mendorongnya ke peranan seorang penyerang dan terlepas dari peranan seorang da’i sebagaimana telah diwasiat­kan Rasul kepadanya, Nabi merasa kesal dan bersedih sewaktu tindakan Khalid disampaikan kepadanya dan sambil berdiri menghadap kiblat, beliau mengangkatkan tangannya, memohon ampun kepada Allah dengan ucapannya:

“Wahai ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu, dari tindakan yang telah dilakukan Khalid”

lalu diutusnya Ali kepada mereka untuk memberikan tebusan ganti rugi, terhadap darah dan harta mereka.

Kata setengah orang, Khalid membela dirinya dengan alasan, Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi mengatakan kepadanya bahwa Rosululloh memerintahkan dia untuk memerangi mereka karena mereka menolak Islam ….