Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ABU DARBA - PART 2"

http://massandry.blogspot.com
Abu Darda’ merasakan sendiri dengan sebenar-benarnya bahwa ia diciptakan bagi sesuatu yang memang sedang hendak dicapainya itu, yaitu mengkhususkan diri mencari hakikat dengan mengalami dan melalui latihan-latihan berat dalam menjauhi kesenangan dunia sesuai dengan keimanan yang dipimpinkan Allah kepadanya, digariskan Rasul dan Agama Islam.
Jika anda suka, sebutlah itu tashawwuf ….

Akan tetapi itu adalah tashawwuf seorang laki-laki yang telah melengkapi kecerdasan seorang mu’min, kemampuan failasuf, dan pengalaman seorang pejuang serta yang menjadikan tashawwufnya suatu gerakan lincah membina ruhani, bukan hanya sekedar bayang-bayang yang baik dari bangunan ini. Benar . . . itulah ia Abu Darda’, shahabat Rasulullah saw. dan murid­nya! Itulah ia Abu Darda’ seorang suci dan ahli hikmat … se­orang laki-laki yang telah menolak dunia dengan kedua telapak tangannya dan melindunginya dengan dadanya ….

Seorang laki-laki yang bertahan mengasah jiwa dan men- sucikannya, sehingga menjadi cermin yang memantulkan hikmat, kebenaran dan kebaikan, yang menjadikan Abu Darda’ sebagai seorang maha guru dan ahli hikmat yang lurus. Berbahagialah mereka yang datang menemuinya dan sedia mendengarkan ajarannya. Ayuhlah, mari kita mendekatkan diri kepada hikmat­nya, wahai orang yang mempunyai fikiran ….

Kita mulai dengan filsafatnya terhadap dunia, terhadap kesenangan dan kemewahan …. Ia amat terkesan sekali sampai ke dasar jiwanya dengan ayat-ayat al-Quran yang berisi bantahan terhadap:

يَحْسَبُ أَنَّ مالَهُ أَخْلَدَهُ 
كَلاَّ لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ

“Orang yang mengumpul-ngumpul harta dan menghitung-hitungnya . . . ,
disangkanya hartanya dapat mengekalkannya…. (Q.S. 104 al-Humazah: 2-3)

Dan ia sangat terkesan pula sampai lubuk hatinya akan sabda

“Yang sedikit mencukupi, lebih baik dari yang banyak membawa rugi… “.

Dan bersabda Rasulullah saw.:

“Lepaskanlah dirimu dari keserakahan akan dunia sekuasa kamu, sebab siapa yang dunia menjadi tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan miliknya yang telah ter­kumpul, lalu dijadikannya kemiskinan dalam pandangan matanya. Dan siapa yang menjadikan akhirat tujuan dan cita-citanya, Allah akan menghimpunkan miliknya yang bercerai-berai, lalu dijadikan-Nya kekayaan dalam hatinya, dan dimudahkannya mendapatkan segala kebaikan”.

(H.R. Thabarani Mu’jam al-Kabir)

Oleh karena itulah ia menangisi mereka yang jatuh menjadi tawanan harta kekayaan dan berkata: “O Tuhan, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang bercabang-cabang. . . /”Ditanya orang: “Dan- apakah pula hati yang bercabang-cabang itu wahai Abu Darda’.. . ?”

Dijawabnya: “Memiliki harta benda di setiap lembah … !”

Dan ia menghimbau manusia untuk memiliki dunia tanpa terikat kepadanya …. Itulah cara pemilikan yang hakiki! Adapun keinginan hendak menguasainya secara serakah tak akan pernah ada kesudahannya, maka yang demikian adalah seburuk-buruk corak perhambaan diri, dan perbudakan! Ketika itu ia berkata pula: “Barang siapa yang tidak pernah merasa puas terhadap dunia, maka tak ada dunia baginya …. ?”

Harta baginya hanya sebagai alat bagi kehidupan yang ber­sahaja dan sederhana, tidak lebih. Bertolak dari sana, maka men­jadi kewajibanlah bagi manusia mengusahakannya dari yang halal dan mendapatkannya secara sopan dan sederhana, tidak dengan kerakusan dan mati-matian.

Maka katanya pula:
” Jangan engkau makan, kecuali yang baik . . . , Jangan engkau usahakan, kecuali yang baik . . . , dan jangan engkau masukkan ke rumahmu, kecuali yang baik . . . ! “

Pernah ia menyurati shahabatnya dengan kata-kata sebagai berikut:

“Arkian …. Tidak satu pun harta kekayaan dunia yang kamu miliki, melainkan sudah ada orang lain memilikinya sebelum kamu . . . dan akan ada terus orang lain memilikinya sesudah kamu! Sebenarnya yang kamu miliki dari dunia, hanyalah sekedar yang telah kamu manfaatkan untuk dirimu …. Maka utamakanlah diri itu dari orang yang untuknya kamu kumpulkan harta itu yaitu anak-anakmu yang bakal mewarisimu. Karena dalam mengumpul-ngumpul harta itu kamu akan memberikan­nya kepada salah satu di antara dua: Adakalanya kepada anak yang shaleh yang beramal dengannya guna mentaati Allah, maka ia berbahagia atas segala penderitaanmu …. Dan ada­kalanya pula kepada anak durhaka yang mempergunakan untuk maksiat, maka engkau lebih celaka lagi dengan harta yang telah kamu kumpulkan untuknya itu … . Maka percayakanlah nasib mereka kepada rizqi yang ada pada Allah, dan selamatkanlah dirimu sendiri ….!”

Menurut pandangan Abu Darda’, dunia seluruhnya hanya semata-mata titipan. Sewaktu Ciprus ditaklukkan, dan harta rampasan perang dibawa ke Madinah, orang melihat Abu Darda’ menangis …. Mereka dengan terharu mendekatinya dan mereka meminta Jubair bin Nafir untuk menanyainya:

“Wahai Abu Darda’, apakah sebabnya anda menangis pada saat Islam telah dimenangkan Allah bersama ahlinya . . . ?”

Pertanyaan tersebut dijawab oleh Abu Darda’ dengan suatu untaian kata yang sangat berharga dan pengertian yang mendalam:

“Aduh …. wahai Jubair! Alangkah hinanya makhluq di sisi Allah, bila mereka meninggalkan kewajiban­nya terhadap Allah …. Selagi ia sebagai suatu ummat yang perkasa, berjaya mempunyai kekuatan, lalu mereka tinggal­kan amanat Allah, maka jadilah mereka seperti yang engkau lihat…. “

Benarlah demikian . . . ! Menurut Abu Darda’, keruntuhan cepat yang dijumpai bala­tentara Islam pada negeri-negeri yang dibebaskan, sebabnya ialah karena negeri-negeri tersebut kehilangan pegangan ruhani yang benar yang melindunginya dan Agama yang betul yang menghubungkannya dengan Allah.

Dan karena itu pula ia mengkhawatirkan keadaan Kaum Muslimin di saat ikatan iman mereka mengendor, hubungan mereka dengan Allah menjadi lemah, dengan yang haq dan dengan kebaikan, maka berpindahlah titipan itu dari tangan mereka dengan mudah sebagaimana dulu berpindah kepada mereka dengan mudah pula ….

Sebagaimana menurut keyakinannya dulu dunia seluruhnya hanya semata-mata pinjaman, begitu juga ia menjadi jembatan untuk menyeberang kepada kehidupan yang abadi dan lebih mengasyikkan ….

Pada suatu kali para shahabatnya menjenguknya sewaktu ia sedang sakit, mereka mendapatinya terbaring di atas hamparan dari kulit …. Mereka menawarkan kepadanya agar kulit itu diganti dengan kasur yang lebih baik dan empuk …. Tawaran ini dijawabnya sambil memberi isyarat dengan telunjuknya, sedang kedua matanya yang bercahaya-cahaya menatap jauh ke depan:

“Kampung kita nun jauh di sana . . . untuknya kita mengumpulkan bekal, dan ke sana kita akan kembali . . . kita akan berangkat kepadanya . . . dan beramal untuk bekal di sana . . . !”

Pandangan terhadap nilai dunia ini bagi Abu Darda’ bukan hanya sekedar arah pandangan saja, tetapi lebih dari itu ia me­rupakan suatu jalan hidup . . . !

Yazid bin Mu’awiyah putera Khalifah pernah melamar anaknya dan ditolaknya. Ia tidak hendak menerima lamaran tersebut. Kemudian ia dilamar oleh salah seorang Muslim yang shaleh tetapi miskin, maka puterinya itu dinikahkannya kepadanya. Orang-orang pada tercengang dengan tindakannya itu. Abu Darda’ memberitahu mereka alasan-alasannya, katanya:

“Bagaimana kiranya nanti dengan si Darda’ bila ia telah dikelilingi para pelayan dan inang pengasuh dan terpedaya oleh kemewahan istana … di mana letak agamanya waktu itu . . . ?”

Ia seorang yang bijaksana berjiwa lurus dengan hati yang mulia. Semua kesenangan harta benda dunia yang sangat diingini nafsunya dan didambakan kalbunya, dituduhkan …. Dengan sifat ini, berarti ia bukan lari dari kebahagiaan, malah sebalik­nya. Maka kebahagiaan sejati baginya, ialah menguasai dunia, bukan dikuasai dunia. Bilamana manusia hidup dalam batas bersahaja dan sederhana, dan bilamana mereka telah meng­gunakan hakikat dunia hanya sebagai jembatan yang menye­berangkannya ke kampung halaman yang tetap dan abadi, maka mereka akan memperoleh kebahagiaan sejati yakni kebahagiaan yang lebih sempurna dan lebih agung ….

Ia juga berkata: “Kebaikan bukanlah karena banyak harta dan anak-pinakmu tetapi kebaikan yang sesungguhnya ialah bila semakin besar rasa santunmu, semakin bertambah banyak ilmu­mu, dan kamu berpacu menandingi manusia dalam mengabdi kepada Allah Ta’ala!”