Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - ZAID BIN TSABIT - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
Bila anda membawa al-Quran dengan tangan kanan anda, dan menghadapkan wajah anda kepada-Nya dengan sepenuh hati, dan selanjutnya menelusuri lembaran demi lembaran, surat demi surat atau ayat demi ayat, maka ketahuilah bahwa di antara orang-orang yang telah berjasa besar terhadap anda, hingga anda dapat bersyukur dan mengenal karya besar ini, adalah seorang manusia utama namanya Zaid bin Tsabit.

Dan dalam mengikuti peristiwa-peristiwa pengumpulan al-Quran sampai menjadi satu mushaf (buku), akan selalulah diingat orang bahkan tak dapat dilupakan nama shahabat besar ini.

Dan di kala diadakan penaburan bunga sebagai penghormatan dan kenang-kenangan terhadap mereka yang mendapat berkat karena jasa mereka yang tak ternilai dalam menghimpun, me­nyusun, menertibkan dan memelihara kesucian al-Quran, maka Zaid bin Tsabit merupakan pribadi yang mempunyai hak atau jatah terbesar dalam menerima bunga-bunga penghormatan dan penghargaan itu.

Ia adalah seorang Anshar dari Madinah …. Sewaktu Rasul­ullah saw. datang berhijrah ke Madinah, umurnya baru 11 tahun. Anak kecil ini ikut masuk Islam bersama-sama keluarganya yang lain yang menganut Islam, dan ia mendapat berkat karena didu’akan oleh Rasulullah saw ….

Ia dibawa oleh orang tuanya berangkat bersama-sama ke perang Badar tapi Rasulullah menolaknya ikut, karena umur dan tubuhnya yang masih kecil.

Di perang Uhud ia menghadap lagi bersama teman-teman sebayanya kepada Rasul. Dengan berhiba-hiba mereka memohon agar dapat diterima Rasul dalam barisan Mujahidin, bahkan para keluarga anak-anak ini menyokong permintaan itu dengan gigih, penuh pengharapan ….

Rasul melayangkan pandangannya ke pasukan berkuda cilik itu dengan pandangan terima kasih. Tapi kelihatannya beliau masih keberatan untuk mengerahkan mereka dalam peperangan kali ini… .

Tetapi salah seorang di antara mereka yaitu Rafi’ bin Khudaij tampil ke hadapan Rasulullah saw. dengan membawa tombaknya serta mempermainkannya dengan gerakan yang mengagumkan, lalu katanya kepada Rasulullah saw.: “Sebagaimana anda lihat ya Rasulullah, aku adalah seorang pelempar tombak yang mahir, maka mohon aku diidzinkan untuk ikut . . . !”

Rasul mengucapkan selamat terhadap pahlawan muda yang baru naik ini dengan satu senyuman manis dan ramah, lalu mengidzinkannya turut.

Melihat ini teman-temannya yang lain pun bangkit semangat …. Maka tampil lagi ke depan anak muda yang kedua namanya Samurah bin Jundub, dan dengan penuh sopan diperlihatkannya kedua lengannya yang kuat kekar, sementara sebagian keluarga­nya mengatakan kepada Rasul: “Samurah mampu menjatuhkan orang yang tinggi sekalipun … !”

Rasul pun berkenan pula melontarkan senyumannya yang menawan dan menerimanya dalam barisan …. Kedua anak muda itu masing-masing telah berumur lima belas tahun di samping mempunyai pertumbuhan badan yang kuat.

Dari kelompok anak-anak itu masih tinggal enam orang lagi, di antaranya Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar . . . .

Mereka terus saja berusana dengan segala upaya minta ikut, kadang-kadang dengan merendah-rendah dan mengharap, kadang- kadang dengan menangis dan lain kali dengan memamerkan otot-otot lengan mereka. Tetapi karena umur mereka yang masih terlalu muda dan tulang tubuh mereka yang masih lemah, Rasul lalu menjanjikan mereka untuk peperangan yang akan datang ….

Begitulah Zaid bersama kawan-kawannya baru memulai gilirannya sebagai prajurit perang di jalan Allah waktu perang Khandaq, yakni pada tahun yang kelima dari hijrah.

Kepribadiannya selaku seorang Muslim yang beriman terus bertumbuh dengan cepat dan mena’jubkan. Ia bukan hanya terampil sebagai pejuang, tapi juga sebagai ilmuwan dengan bermacam-macam bakat dan kelebihan. Ia tak henti-hentinya menghapal al-Quran, menuliskan wahyu untuk Rasulnya, dan meningkatkan diri dalam ilmu dan hikmat. Dan sewaktu Rasul mulai menyampaikan da’wahnya ke luar negeri secara merata, dan mengirimkan surat-surat kepada raja-raja dan kaisar-kaisat dunia, maka diperintahkannyalah Zaid mempelajari sebagian bahasa asing itu yang berhasil dilaksanakannya dalam waktu yang singkat….

Demikianlah kepribadian Zaid bin Tsabit menjadi cemerlang, dan ia dapat menempatkan diri dalam lingkungan pergaulan yang baru pada kedudukan yang tinggi, hingga ia pun jadi tumpuan penghormatan dan penghargaan masyarakat Islam.

Berkata Sya’bi:

“Pada suatu kali Zaid hendak pergi berkendaraan, maka Ibnu Abbas lalu memegangkan tali kendali kudanya . . . . Kata Zaid kepadanya: “Tak usahlah, wahai putera paman Rasulullah . . . !” yang segera dijawab oleh Ibnu Abbas: “Tidak, memang beginilah seharusnya kami lakukan terhadap ulama kami. . . !”

Berkata pula Qabishah:

“Zaid di Madinah mengepalai peradilan urusan fatwa, qiraat dan soal pembagian pusaka ….”.

Dan berkata pula Tsabit bin Ubeid: “Jarang aku melihat seseorang yang jenaka di rumahnya, tetapi paling disegani di majlisnya seperti Zaid”.

Dan kata Ibnu Abbas pula: “Tokoh-tokoh terkemuka dari shahabat-shahabat Muhammad saw. tahu betul bahwa Zaid bin Tsabit adalah orang yang dalam ilmunya .. . !”

Puji-pujian tentang kelebihannya itu yang dikemukakan secara berulang-ulang oleh shahabat-shahabatnya, dapatlah menambah pengertian kita terhadap tokoh yang oleh taqdir telah disediakan baginya tugas terpenting di antara semua tugas dalam sejarah Islam, yaitu tugas menghimpun al-Quran.

Semenjak wahyu mulai turun, dan mengambil tempat di hati Rasul agar beliau termasuk golongan orang-orang yang menyampaikan peringatan dan perhatian, mengemukakan dan melaksanakan al-Quran dengan menyampaikan ayat-ayat yang mempesonakan ini:

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang telah mengajar dengan pena. Mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya …!” (Q 96 al_’Alaq: 1 – 5)

Sejak permulaan itu, wahyu turun menyertai Rasulullah saw., setiap beliau berpaling menghadapkan wajahnya ke hadlirat Allah sambil mengharapkan nur dan petunjuk-Nya. Wahyu turun berangsur-angsur sedikit demi sedikit, seayat demi seayat . . . .