Friday, May 29, 2015

Tokoh Islami "ENAM PULUH SAHABAT UTAMA RASUL - QEIS BIN SAAD BIN ‘UBADAH - PART 1"

http://massandry.blogspot.com
” KALAU TIDAKLAH KARENA ISLAM, MAKA IA LAH AHLI TIPU MUSLIHAT ARAB YANG PALING LIHAI . . . !”

Walaupun usianya masih muda, orang-orang Anshar me­mandangnya seperti seorang pemimpin …. Mereka mengatakan:

“Seandainya kami dapat membelikan janggut untuk Qeis dengan harta kami, niscaya akan kami lakukan”.

Sebabnya ia berwajah licin, tak ada suatu pun kekurangan dari sifat-sifat kepemimpin­annya yang lazim terdapat pada adat kebiasaan kaumnya, selain soal janggut yang oleh para pria dijadikan sebagai tanda ke­jantanan pada wajah-wajah mereka.

Nah, siapakah kiranya pemuda yang sangat dicintai kaumnya ini, sampai-sampai mereka siap mengurbankan harta untuk membelikan janggut yang akan menghiasi mukanya, sebagai penyempurna bentuk luarnya bagi kebesaran hakiki dan kepemimpinan yang tinggi yang sudah dimilikinya . . . ?

Itulah dia Qeis bin Sa’ad bin ‘Ubadah! Berasal dari keluarga Arab yang paling dermawan dari turunan­nya yang mulia …. suatu keluarga yang Rasulullah saw. pernah berkata terhadapnya:

“Kedermawanan menjadi tabi’at anggota keluarga ini!”

Ia adalah seorang lihai yang banyak tipu muslihat, seorang yang mahir, licin dan cerdik, dan orang yang terus terang mengatakan secara jujur tentang dirinya:

“Kalau bukan karena Islam, saya sanggup membikin tipu mus­lihat yang tidak dapat ditandingi oleh orang Arab mana pun!” Sebabnya, karena ia adalah seorang yang tinggi kecerdasannya, banyak akal dan encer otaknya.

Pada peristiwa Shiffin ia berdiri di fihak Ali menentang Mu’awiyah …. Maka duduklah ia merencanakan sendiri tipu muslihat yang mungkin akan membinasakan Mu’awiyah dan para pengikutnya di suatu hari atau pada suatu ketika kelak. Namun ketika ia menyaring macam-macam muslihat yang telah memeras kecerdasannya. Namun, ketika ia menyaring itu disadarinya bahwa itu adalah suatu muslihat jahat yang membahayakan. Maka teringatlah ia akan firman Allah swt.:

وَلا يَحيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلاَّ بِأَهْلِهِ

“Dan tipu daya jahat itu akan kembali menimpa orangnya sendiri!” (Q g 35 al-Fathir:43)

Maka ia pun segera bangkit, lalu membatalkan cara-cara tersebut sambil memohon ampun kepada Allah, serta mulutnya seakan-akan hendak mengatakan: “Demi Allah, seandainya Mu’awiyah dapat mengalahkan kita nanti, maka kemenangannya itu bukanlah karena kepintarannya, tetapi hanyalah karena keshalehan dan ketaqwaan kita ….”.

Sesungguhnya pemuda Anshar suku Khazraj ini, adalah dari suatu keluarga pemimpin besar, yang mewariskan sifat-sifat mulia dari seorang pemimpin besar kepada pemimpin besar pula …. Ia anak dari Sa’ad bin ‘Ubadah, seorang pemimpin Khazraj, yang akan kita temui riwayatnya di belakang kelak.

Sewaktu Sa’ad masuk Islam, ia membawa anaknya Qeis dan menyerahkannya kepada Rasul sambil berkata: “Inilah khadam anda ya Rasulallah!” Rasul dapat melihat pada diri Qeis segala tanda-tanda keutamaan dan ciri-ciri kebaikan . . . . Maka dirangkul dan didekatkannya ke dirinya dan senantiasalah Qeis menempati kedudukan di sisi Nabi….

Anas, shahabat Rasulullah pernah mengatakan: “Kedudukan Qeis bin Sa’ad di sisi Nabi, tak ubah seperti ajudan”.

Selagi Qeis memperlakukan orang-orang lain sebelum ia masuk Islam dengan segala kecerdikannya, mereka tak tahan akan kelihaiannya. Dan tak ada seorang pun di kota Madinah dan sekitarnya yang tidak memperhitungkan kelihaiannya ini secara hati-hati. Maka setelah ia memeluk Islam, Islam mengajarkan kepadanya untuk memperlakukan manusia dengan kejujuran, tidak dengan kelicikan. Ia adalah seorang anak muda yang banyak amalnya untuk Islam, karena itu di kesampingkannya kelihaiannya, dan tidak hendak mengulangi lagi tindakan-tin- dakan liciknya masa silam. Setiap ia menghadapi suatu kejadian yang sukar, ia ingat kepada prakteknya yang lama, segera sadar­kan diri lalu diucapkannyalah kata-katanya yang bersayap: “Kalau bukan karena Islam, akan kubuat tipu muslihat yang tidak dapat ditandingi oleh bangsa Arab . . .!”

Tak ada perangai lain pada dirinya yang lebih menonjol dari kecerdikannya kecuali kedermawanannya …. Dermawan dan pemurah bukanlah merupakan perangai baru bagi Qeis, karena ia adalah dari keluarga yang turun-temurun terkenal dermawan dan pemurah.

Bagi Qeis sebagai telah menjadi kebiasaan bagi orang-orang yang paling dermawan dan suka membantu di antara suku-suku Arab, ada petugas yang sering berdiri di tempat ketinggian memanggil para tamu untuk makan siang bersama mereka . . . , atau sengaja menyalakan api di malam hari untuk menjadi petunjuk bagi para musafir yang lewat. Orang-orang di zaman itu mengatakan: “Siapa yang ingin memakan lemak dan daging, silahkan mampir ke benteng perkampungan Dulaim bin Hari- tsah . . . !” Dulaim bin Haritsah adalah kakek kedua dari Qeis. Di rumah bangsawan inilah Qeis mendapat didikan kedermawan­an dan kepemurahan …